Grafik

Plan of traveling

Look Beauty in the Country

Production House

The best work is a hobby that produces

Welcome to VISASIA Entrepreneur Community

Bangun Team Work Anda bersama Visasia Entrepreneur Community (VISEC) dalam mewujudkan Group Bisnis Masa Depan Anda menghadapi Era Globalisasi 2021.

Selasa, 14 April 2015

7 Ciri-ciri Mereka yang Mempunyai Kecerdasan Emosional yang Tinggi

Akhir-akhir ini, kita semakin sadar bahwa kecerdasan emosional ini sangat penting bagi tiap individu dalam menunjang kesuksesan dan kebahagiaan mereka, baik di tempat kerja, pergaulan hingga kehidupan keluarga. Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan membantu anda dalam bersikap praktis ketika di hadapkan pada suatu permasalahan. Untuk itu, kali ini saya akan sharingkan apa saja ciri-ciri mereka yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi. Harapannya, hal ini akan menjadi referensi kita bersama untuk kehidupan kita yang lebih bermanfaat dan bahagia kedepannya.
1. Fokus pada Hal-hal yang Positif
Mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi sadar bahwa percuma saja berlarut-larut dengan masalah. Fokus pada masalah tidak akan pernah membawa solusi, sebaliknya bersikap positif dalam menyikapi masalah akan membawa anda pada solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan anda.
2. Mereka yang Berpikiran Positif akan Berkumpul dengan Mereka yang Berpikir Positif Pula
Orang-orang dengan kecerdasan emosional tinggi tidak akan menghabiskan banyak waktu dengan berkumpul bersama mereka yang suka mengeluh dan mengumpat. Mendengarkan keluh kesah dari mereka yang suka berpikir negatif hanya akan membawa menghabiskan energi kita pada hal yang percuma. Sebaliknya, berkumpul dengan orang yang memiliki pikiran positif dan penuh semangat akan membuat kita tertular juga. Dan inilah yang pada akhirnya akan meningkatkan kecerdasan emosional anda juga.
3. Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi selalu Assertive
Assertive adalah sebuah sikap tegas dalam mengemukakan suatu pendapat, tanpa harus melukai perasaan lawan bicaranya. Orang yang assertive sangat tahu betul kapan mereka harus bicara, kapan mereka harus mengemukakan suatu pendapat dan bagaimana cara yang tepat untuk memberikan sebuah solusi tanpa harus menggurui. Dan yang pasti mereka yang memiliki sikap assertive selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bicara.
4. Mereka adalah Visioner yang siap Melupakan Kegagalan di Masa Lalu
Orang-orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan sibuk memikirkan apa yang akan dilakukannya di masa depan dan segera melupakan kegagalan di masa lalu. Baginya kegagalan di masa lalu adalah sebuah pelajaran yang penting diambil untuk mengambil langkah yang lebih mantab di masa yang akan datang.
5. Mereka Tahu Cara Membuat Hidup Lebih Bahagia dan Bermakna
Dimanapun mereka berada, apakah itu di tempat kerja, di rumah ataupun berkumpul dengan teman-teman, orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan membawa kebahagiaan bagi sesamanya. Terkadang arti bahagia bagi mereka tidak harus sebuah kekayaan. Bersyukur akan nikmat yang didapat hari ini dan membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya akan membuat mereka merasa bahagia dan bermakna.
6. Mereka Tahu Bagaimana Mengeluarkan Energi Mereka secara Bijak
Mereka yang dikaruniai kecerdasan emosional tinggi, tahu bagaimana memanfaatkan energi mereka dengan bijak.Mereka tidak akan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang percuma saja. Mereka akan fokus pada tindakan-tindakan yang akan membawa manfaat bagi sesamanya.
7. Terus Belajar dan Berkembang
Mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi sadar, bahwa apa yang ia ketahui saat ini masih belumlah apa-apa. Baginya, belajar bukanlah 12 tahun wajib belajar dan 4 tahun kuliah. Wajib belajar adalah seumur hidup. Mereka selalu terbuka akan hal-hal baru dan berani mencoba berbagai macam tantangan yang akan membuat mereka berkembang. Kritik dan saran dari orang lain akan dijadikan sebagai referensi baru dalam mengambil langkah dan keputusan di masa yang akan datang.
“It isn’t stress that makes us fall – it;s how we respond to stressful events.” – Wayde Goodall 

Senin, 13 April 2015

Hadapi MEA, UMKM Didorong Melek IT

Jelang digulirkannya pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Semua kota di Indonesia, didorong meningkatkan kualitas produksi dan kemampuan agar dapat bersaing. Salah satunya dengan menguasai sistem informasi teknologi (IT). 

MAKASSAR - Kini telah memiliki sebuah organisasi nasional yang berkedudukan di Makassar sebagai central gerakan bagi semua sektor UMKM dan juga sebagai wadah terhimpunnya orang-orang yang memfokuskan kegiatan pada pengembangan industri creative dan UKM yang berbasis IT.

gagasan yang tercipta kini dalam tahapan pengembangan untuk bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada seluruh masyarakat Indonesia sampai ke seluruh pelosok negri. tahapan tahapan yang terbangun yaitu ;

  1. pelatihan entrepreneur (bagaimana bisa mengelolah usaha sendiri)
  2. pelatihan untuk bisa menguasai sistem informasi teknologi (IT)
  3. memberikan alat alat bantu dalam pengembangan usaha
  4. melakukan research terhadap peluang peluang usaha yang potensial
  5. menciptakan pasar untuk semua anggota
  6. meningkatkan mutu produk produk yang dihasilkan oleh semua anggota
  7. mewadahi semua produk UKM untuk go internasional
untuk mengenal kami lebih jauh pelajari selengkapnya., dan pastikan diri anda tergabung sebagai partisipant yang peduli terhadap nasib UKM Indonesia kedepannya.

VENA (Visasia Entrepreneur Indonesia) - pelajari selengkapnya

Minggu, 05 April 2015

“Saya Diadili Media Massa”

Eksekusi enam orang terpidana mati karena kasus narkoba di Nusa Kambangan dan Boyolali (Jawa Tengah), belum lama ini, mengingatkan publik akan Herman Jumad Masan yang kini menunggu eksekusi mati di Rutan Maumere

MANTAN pastor yang divonis Pengadilan Negeri (PN) Maumere dan Pengadilan Tinggi (PT) Kupang dengan hukuman seumur hidup karena kasus pembunuhan itu, akhirnya dijatuhi hukuman mati saat mengajukan kasasi di Mahkamah Agung (MA). Dalam sidang yang digelar Selasa (11/02) tahun lalu itu, majelis hakim yang terdiri dari tiga Hakim Agung yakni Timur Manurung (ketua), Gayus Lumbuun, dan Dudu Duswara, keduanya sebagai anggota, menilai Herman terbukti melanggar pasal pembunuhan berencana yakni Pasal 340 KUHP jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP, Pasal 338 KUHP jo Pasal 65 Ayat (1) dan Pasal 181 KUHP, karena menyembunyikan mayat agar perbuatannya tidak diketahui oleh orang lain. Herman Jumad pun dijatuhi hukuman mati.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai tanggapannya terkait hukuman mati yang diterimanya, saya berkesempatan mewawancarai mantan pastor yang pernah bertugas di Paroki Lela, Kabupaten Sikka dan memimpin perusahaan perkebunan kopi dan kakao, PT. Lerolara, milik Keuskupan Larantuka di Hokeng, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur ini. Wawancara dilakukan usai penyerahan remisi bagi tahanan di Rumah Tahanan Negara ( Rutan ) Maumere, baru-baru ini. Berikut petikannya:
Apa makna kemerdekaan menurut Anda?Kemerdekaan yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan kita hendaknya dimaknai secara utuh saat ini. Dahulu para pejuang, para pendiri negara ini mengorbankan nyawa mereka saat mengusir penjajah untuk mendirikan sebuah negara yang merdeka. Tapi lebih jauh, sebenarnya kemerdekaan dari aspek kemanusiaan yang utama. Dalam perjalanan setelah 17 agustus 1945 secara umum kita tidak bebas 100 persen.
Penjajahan sampai sekarang masih ada. Contoh konkretnya, kita masih dijajah oleh kemiskinan dan pengangguran yang berakibat lanjut pada pelanggaran aturan. Sebagai salah seorang penghuni rutan, saya melihat secara nyata ada fakta yang perlu disikapi secara baik bahwa, menghuni rutan selain tanggung jawab pribadi sebagai pelanggar hukum, apa yang terjadi tidak bisa dilepas dari situasi dan lingkungannya.
Satu yang menggelisahkan saya adalah terdapat sekian banyak pengangguran. Ketika orang kalah bersaing dalam kehidupan bersama dan di lain pihak sebagai makluk yang perlu bertahan hidup, karena itu bisa saja pilihannya mati atau hidup. Pada saat yang sama dia bisa saja melakukan pelanggaran hukum. Karena itu sebenarnya kemerdekaan mesti dalam arti ini.
Pemerintah yang mengurus negara ini mesti membereskan negara ini sampai kepada setiap manusia sekurang kurangnya bisa hidup layak. Dengan demikian, kita bisa berharap bahwa rutan dan lapas pelan – pelan seperti di negara – negara lain, bila perlu tidak ada penghuninya.
Ketika ada kekeliruan atau kesalahan, penangangan kasus sampai dewasa ini, –saya berbicara sebagai penghuni rutan–, masih seperti cara untuk mendapatkan uang atau the way off making money. Pasar itu bukan saja barang dan jasa tapi sepertinya penegak hukum juga melihat ini sebagai pasar gaya baru untuk bisa menentukan nasib orang. Pertanyaan kita, dari aspek hukumnya kapan kita merdeka.
Saya ingat sekali pemikiran Yunani kuno, sepanjang kita masih dipimpin oleh perut, pemerintahan kita yang berorientasi perut, negara akan tetap stagnan. Kita tunggu sampai negara ini diperintah oleh kepala, otak. Makanya kita sebut kepala negara, pemerintahan yang beralih dari perut melalui hati nurani ke kepala. Ini menjadi tugas dan pekerjaan rutin dari pengurus negara, dan ini jadi makna yang paling dalam dari kemerdekaan menurut saya.
Setelah 69 tahun merdeka, isi kemerdekaan harus dilihat secara lain, kapan warga negara merdeka secara utuh dari seluruh aspek kehidupan. Pertanyaannya seberapa jauh masyarakat ini menjadi makmur, bebas dari tekanan hidup dan perjuangan hidup yang semakin sulit dewasa ini.
Apakah yang ingin Anda katakan terkait hukuman mati yang dijatuhkan MA?Hukum hendaknya tidak menjadi lahan dimana dengannya orang bisa mengisi perutnya dan bisa mendapatkan uang. Kita berharap orang dihukum karena kesalahannya bukan karena uang atau aspek-aspek di luar hukum. Hukum selama ini dianggap masyarakat lebih membela kaum berduit daripada rakyat jelata. Hukum yang tajam ke atas dan tumpul ke bawah jadi persoalan yang pelik di negeri ini. Saya dihukum bukan karena perbuatan saya, tapi saya dihukum lebih kepada konsep orang, dugaan orang. Kasus saya sendiri tidak punya saksi dan alat bukti cukup.
Secara moril tentu saya bertanggung jawab. Kerangka yang sudah 10 tahun divisum bukan diautopsi. Ketika berbicara tentang sebab kematian, orang akhirnya mengandalkan dugaan. Karena itu saya berani untuk mengambil langkah lain bukan karena saya tidak menerima putusan hukuman mati yang saya terima.
Putusan apa pun saya terima tetapi asalkan kebenaran mesti diutamakan. Saya sudah banding dan kasasi, hukumannya mati. Lalu ke depan ada upaya peninjauan kembali sambil menanti salinan putusan Mahkamah Agung (MA) untuk dilihat faktor apa yang menyebabkan majelis hakim MA menjatuhkan human mati. Jangankan hukuman mati, ada yang lebih dari hukuman mati pun saya rela asal pengadilan mesti bisa menurunkan ceritera yang benar tentang peristiwa saya.
Anda merasa dihukum bukan atas kesalahan yang Anda lakukan?Seharusnya saya dihukum sejalan dengan apa yang saya perbuat bukan apa yang orang katakan. Ini penting, sebab kebenaran ceritera membuat orang dihukum itu mesti menjadi lebih utama karena tidak akan pernah ada keadilan tanpa ceritera benar. Keputusan hukum harus dibangun di atas kebenaran ceritera, orang dihukum berdasarkan perbuatannya bukan berdasarkan analisa atau dugaan – dugaan. Kejadian ini, bukan saja dialami saya saja tapi banyak teman di rutan yang putusannnya berdasarkan uang. Saya mempunyai bukti putusan PN Maumere.
Saya berani katakan boleh diadili, putusan sangat manipulatif. Saya akan melihat bersama penasihat hukum saya apakah penerapan hukum itu pas atau tidak. Saya tidak membela diri, tiga orang sudah meninggal. Kasus saya sampai hari ini saya katakan kasus kematian bukan pembunuhan. Kalau pun dibilang kasus pembunuhan harus bisa dibuktikan. Karena menurut aturan yang saya sedikit tahu, kalau kasus dengan alat bukti kurang dengan kadar pembuktian lemah mesti mengambil posisi hukuman yang paling lemah. Tetapi dalam kasus saya justru berbeda.
Kasus yang saya alami menjadi gambaran. Cuma satu orang yang mengalami ini tetapi jangan pernah lupa bahwa ada100 lebih orang sesama saya yang ada di Rutan Maumere, tidak semua kasusnya murni. Contoh sederhananya, ketika ancaman ditunjuk, saudara mempunyai ancaman empat tahun, ada pertanyaan dari aparat penegak hukum. Bapakmu kerja apa? Mamamu ada di mana? Tolong datang dan sebagainya. The way off making money dalam hubungannya dengan hukum masih sangat kuat.
Saya setuju dengan sambutan dari Menteri Hukum dan HAM dalam sambutan tertulisnya saat perayaan kemerdekaan 17 Agustus 2014 lalu. Perlakuan tidak adil dalam kaitannya dengan keadilan itu masih sangat kentara. Dan, untuk peradilan di Maumere, saya berani katakan dan boleh dihukum lebih lagi juga tidak apa-apa, terlalu ramai dengan urusan uang.
Apa yang ingin Anda katakan terkait penegakan hukum di negeri ini ?Peradilan di negeri ini mesti mempunya wasit–sedikit berguru ke Barat– untuk mengurangi aspek absolutisme dari para hakim. Terdakwa juga mesti berhak menandatangani risalah sidang untuk lepas atau terhindar dari kesewang-wenangan mencatat risalah sidang. Ini penting, karena menyangkut kemampuan orang yang berbeda untuk menangkap apa yang disampaikan terdakwa.
Sebenarnya saya agak kurang setuju diwawancarai seperti ini karena daya tangkap orang dipengaruhi oleh hal-hal subjektif, kepentingan-kepentingan tertentu dan sebagainya. Contoh sederhananya, saya diadili lebih oleh media massa. Dari kasus saya sejak saya datang, bulan Februari sampai Agustus saya tidak pernah mengeluarkan pernyatan tentang kasus saya. Tapi di media-media, orang sudah punya ceritera sendiri bahwa saya membunuh.
Pertama kali saya disidik, saya ditanya apakah benar saya membunuh. Oke lah kalau memang saya membunuh, hal ini mesti bisa dibuktikan. Kasus yang saya alami ini, dipaksakan karena ini lebih kepada status saya sebagai seorang imam. Dan, seharusnya menurut aturan gereja saya mesti menghadapi suatu peradilan lain di tingkat gereja. Mestinya hukum punya moral, iya benar. Tapi hal ini mesti bisa dibuktikan secara hukum.Terlalu banyak hal yang ada dalam kehidupan negara kita.
Menurut Anda mental aparat penegak hukum di negeri ini perlu diperbaiki?Lemahnya penegakan hukum di negeri ini tidak terlepas dari perilaku aparat penegak hukum. Buruknya perilaku oknum aparat penegak hukum terlihat jelas dari banyaknya polisi, jaksa dan hakim yang dijatuhi hukuman akibat mendasarkan keputusan atas suap. Kasus hukum yang menimpa mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar jadi gambaran betapa uang dijadikan panglima dalam mengambil keputusan terkait sebuah perkara.
Aparat penegak hukum mesti memisahkan diri dari urusan uang dengan urusan kebenaran dan keadilan. Kalau kita tanya teman-teman di rutan ini, ada yang berani ada yang tidak. Tetapi hampir semua orang ditekan dengan uang. Kasus sama tapi putusannya berbeda.
Sekarang ini, ada satu kasus baru di mana ancamannya 6 tahun, dituntut 1,5 tahun, dan diputus hakim 7 bulan. Tapi jaksa tidak banding. Tapi ketika misalnya dituntut hukuman mati dan diputus seumur hidup, jaksa melakukan banding. Para penegak hukum masih bisa tidak berlaku mewakili yang di atas (Tuhan) untuk memutus nasib manusia yang adalah juga anak Tuhan, bisa tidak? Apakah mereka bisa mewakili perpanjangan Tuhan Yang Maha Adil? Intinya, aparat penegak hukum mesti mengubah perilaku dengan sedikit konsep diri dan konsep tugas yang benar. Tidak untuk kepentingan tertentu tapi untuk menjalankan fungsinya secara benar sebagai perpanjangan tangan Tuhan Yang Maha Adil untuk menentukan nasib manusia.
Menurut Anda keadilan hukum di negeri ini masih belum terwujud?Keadilan masih jauh panggang dari api. Delik aduan yang mestinya sudah dicabut tapi masih dipakai. Revolusi mental lebih diutamakan bagi para aparat penegak hukum dari pusat sampai daerah. Hukum mesti menjadi panglima dan mesti ada dana dan keberanian membenahi diri. Itu revolusi sesungguhnya.
Satu tambah satu sama dengan dua bukan matematika. Dua ini perlakuan, dua ini kata-kata, dua ini tetap hidup, satu ini situasi. Tapi kita bisa kenal orang dari satu. Dua kurang satu tetap satu. Karena itu konsep mind set dan paradigma orang mesti diubah. Kami tadi nyanyi, generasi yang sekarang masih tanya kata-katanya gimana. Karena apa? Setiap lima tahun berubah. Kita berharap tidak ada kepentingan yang terlalu spesifik, kepentingan sesaat, kepentingan- kepentingan politik
Menurut Anda apakah hukuman mati masih perlu diterapkan di negeri ini?Secara prinsip hukuman mati tidak perlu ada di negara yang melandaskan dirinya pada Pancasila dengan sila Ketuhanan dan Kemanusiaan. Yang kedua dalam undang-undang dasar sendiri mestinya hal ini tidak ada.Tapi di lain pihak, dilihat dari segi perkembangan negara ini, orang masih was-was mencabut itu karena secara kenyataan orang masih belum bisa menata hidupnya secara lebih mandiri. Misalnya soal pensiunan, apakah negara bertangggung jawab atas warganya dan pada tingkat tertentu dia bisa memberikan pensiun kepada warganya yang bukan pegawai negeri. Bisa tidak?
Seharusnya tidak ada warga negara kelas A dan kelas B, tetapi pertanyaannya apakah negara sudah mampu membiayai masa tua orang atau tidak. Sepanjang itu tidak bisa, kita masih berurusan dengan pelanggaran aturan dan ini berbanding lurus ketika negara maju penghuni rutan berkurang.
Apa yang ingin Anda sampaikan kepada para pemimpin Negara ini ?Kepada para pemimpin bangsa, saya berpesan agar membangun konsep manusia yang pernah dirusak di hari-hari yang lalu. Karena manusia hanya bisa baik ketika konsep dan hati nuraninya baik. Kita bisa membangun gereja tapi membangun manusia merupakan pertanyaan besar. (*)
Penulis: Ebed de Rosary

Jumat, 03 April 2015

SURAT UNTUK PRESIDEN JOKOWI

Pak Presiden Jokowi yang baik hati,

Tentang kenaikan harga bahan bakar minyak, kami mungkin tidak pandai berhitung: Bagaimana sebenarnya harga minyak ditentukan? Bagaimana neraca perekonomian nasional diperlakukan? Atau pertimbangan apa yang dipakai sehingga satu-satunya pilihan untuk ‘menyelamatkan seluruh bangsa dan negara’ harus sama dan sebangun dengan menaikkan harga-harga? Bagi kami, angka-angka selalu terdengar sebagai ilusi belaka, Pak. Setiap hari kami mendengar satuan ‘miliar’ atau ‘triliun’ disebutkan dalam berita-berita, tanpa pernah benar-benar melihatnya dalam bentuk yang sesungguhnya—apalagi menghitungnya satu per satu.

Hidup kami sederhana, disambung lembaran-lembaran uang recehan. Ilmu hitung kami kelas rendahan: Berapa untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya transportasi, biaya listrik bulanan, dan kadang-kadang cicilan motor, dispenser atau DVD player. Tak perlu kalkulator. Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila sedang sulit, kami tidak kemana-mana, Pak: Kami mencari kebahagiaan gratisan di televisi—meski kadang-kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita tentang pejabat-pejabat negara yang korupsi.

Tahukah Bapak, di televisi, juga koran-koran dan majalah: Kami seperti tak punya presiden! Kami seperti tak punya pemimpin! Negara ini terlanjur dikuasai para bandit dan bajingan tengik yang hanya tahu tentang memperkaya diri sendiri! Ah, mungkinkah Bapak tak sempat menonton TV atau membaca koran sehingga Bapak tak mengetahuinya? Tapi, kemana saja sih Bapak selama ini? Ngapain saja di istana? Mana janji-jani Bapak yang dulu terdengar indah dan gegap gempita?

Kami, rakyat biasa, sesekali butuh kabar gembira, Pak. Kadang-kadang kami berkhayal bahwa jangan-jangan kami ini sedang hidup dalam sinetron? Mungkinkah yang duduk di istana negara itu bukan Bapak—tapi kembaran Bapak yang menyamar atau tertukar? Kemana Bapak yang dulu penuh semangat untuk menyejahterakan rakyat? Lupakah Bapak pada janji-janji Bapak? Mungkinkah kepala Bapak terbentur batu dan lantas hilang ingatan?

Pak Presiden yang baik,

Harga BBM terlanjur naik… Sempat juga turun, tetapi kemudian naik lagi, dan naik lagi. Konon ia mengikuti mekanisme pasar, bergantung pada naik-turun harga minyak dunia. Tapi, Pak, di pasar-pasar becek yang kami tahu, ketika harga sudah terlanjur naik karena BBM naik, ia tak kenal kata turun lagi! Apakah Bapak juga mau menyerahkan nasib kami kepada mekanisme pasar dunia? Alamak!

Lihatlah pejabat-pejabat anak buah Bapak yang hanya bisa meminta kami bersabar dan mengerti! Dengan gagah dan seolah baik hati konon mereka akan memberi kami kompensasi: Membuat kami mengantre untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan. Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak suka melihat kami mengantre—panjang-mengular dari Sabang sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak. Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin. Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami, pakailah uang itu, kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan ‘perekonomian nasional’ yang konon tak kuasa menahan gertakan dollar Amerika dan gejolak harga minyak dunia.

Pak, sudahlah, tak perlu mengeluarkan kartu apa-apa lagi… Dompet kami sudah cukup tebal dengan kartu-kartu, tetapi sekaligus hanya memuat lembar-lembar rupiah yang makin hari makin tipis. Sudahlah tak perlu menyalahkan siapa-siapa, berdirilah untuk membela kepentingan dan nasib hidup kami. Ada apa dengan Bapak ini? Tak perlu takut siapa-siapa, Pak! Bila Bapak disandra mafia, pejabat-pejabat yang bangsat, atau pengusaha-pengusaha yang menghisap rakyat, tolong beritahu kami: Siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk membantu Bapak melawan dan melenyapkan mereka. Tentu saja, semoga Bapak bukan salah satu bagian dari mereka!

Pak Presiden yang baik,

Dengarkanlah kami, berdirilah untuk kami, berbicaralah atas nama kami, belalah kami: Maka kami akan selalu ada, berdiri, bahkan berlari mengorbankan apa saja untuk membelamu. Berhentilah berdiri dan berbicara atas nama sejumlah pihak—membela kepentingan-kepentingan golongan atau partai. Berhentilah jadi bagian dari mereka yang ingin kami benci sampai mati. Jangan jadi penakut, Pak Presiden, jangan jadi pengecut!

Buanglah kalkulatormu, singkirkan tumpukan kertas di hadapanmu, lupakan bisikan-bisikan penjilat di sekelilingmu! Lalu dengarkanlah suara kami, tataplah mata kami: Tidak pernah ada satupun pemimpin di atas dunia yang sanggup bertahan dalam kekuasaannya jika ia terus-menerus menulikan dirinya dari suara-suara rakyatnya!

Pak Presiden,

Sekali lagi, tentang kenaikan harga minyak, barangkali kami memang tak pandai berhitung. Tapi, sungguh, kami tak perlu menghitung apapun untuk memutuskan mencintai atau membenci sesuatu; Termasuk mencintai atau membencimu!

-Dari seseorang yang dulu mendukungmu, yang kini merasa kecewa karena Bapak menyia-nyiakan dukungan itu!

created by : Fahd Pahdepie

Jumat, 27 Maret 2015

Kata Bijak Menghadapi Rasa Takut



Rasa takut merupakan salah satu penghalang dalam meraih kesuksesan. Rasa takut akan kegagalan memang sangat sulit dihilangkan apalagi bila ini terjadi pada orang yang sudah beberapa kali gagal menjalankan sesuatu. Namun demikian kita tidak boleh berputus asa karena masih ada kesempatan lain yang patut untuk kita coba agar dapat meraih kesuksesan yang diimpikan selama ini.  Untuk membantu mengatasi rasa ketakutan sebut kami akan memberikan beberapa kata kata mutiara tentang menghadapi rasa takut.
  1. Takut gagal, bisa membuat orang hati-hati. Takut gagal bisa membuat orang berhenti untuk melangkah. Semua tergantung keputusan anda.
  2. Sebelum anda mengenal rasa takutmu, anda tak akan mengenal dirimu sendiri.
  3. Rasa takut tidaklah buruk. kau akan tau apa kelemahanmu. Dengan begitu maka kau bisa menjadi kuat.
  4. Rasa Takut pada kematian lebih buruk daripada kematian itu
    sendiri.
  5. Rasa takut akan melahirkan celah.
  6. Keberanian tak ada, jika rasa takut tidak ada.
  7. Rasa takut berguna jika dimanfaatkan. Berbahaya, jika digunakan melukai diri sendiri.
  8. Solusi dari setiap ketakutan selalu ada di dekatmu. Tapi mata anda selalu fokus pada rasa takutnya dan mengabaikan solusinya.
  9. Penakut takut pada keberanian, tapi berani menjadi penakut.
  10. Jangan takut, tapi jika engkau benar-benar takut kepadanya maka berlatihlah dengan keras. Sehingga ketakutannmu tadi takut kepadamu.
Semoga dengan adanya sedikit kata mutiara di atas dapat menghilangkan atau tidaknya mengurangi rasa takut adalah sesuatu. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan selama anda selalu membekali diri mu persiapkan diri dengan matang dan baik. Setiap orang dibekali kemampuan dan keberanian untuk menghadapi masalah dan menghilangkan rasa takut tergantung bagaimana kita memanfaatkan potensi yang ada dalam diri kita masing masing. Intinya adalah jangan pernah menyerah percaya pada diri sendiri dan pastikan kita selalu siap dalam menghadapi tantangan cobaan masalah indonesia berganti karena itu nantinya akan membuat kita semakin dewasa