Grafik

Plan of traveling

Look Beauty in the Country

Production House

The best work is a hobby that produces

Welcome to VISASIA Entrepreneur Community

Bangun Team Work Anda bersama Visasia Entrepreneur Community (VISEC) dalam mewujudkan Group Bisnis Masa Depan Anda menghadapi Era Globalisasi 2021.

Senin, 20 April 2015

Apalah Arti Sebuah NAMA

Pada salah satu dialog dari drama tragis namun romantis, Romeo dan Juliet karya William Shakespeare yaitu ketika Romeo membahas kisah cinta mereka, Romeo mempertanyakan, Apa arti nama Capulet (nama keluarganya) yang justru membuat perselisihan.
“What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet”
(Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.) Memang ada benarnya apalah arti sebuah nama apalagi jika nama tersebut hanya membuat perselisihan saja. Namun tidak demikian ketika berhubungan dengan dunia bisnis. Dalam dunia bisnis atau dunia usaha nama menjadi sesuatu yang amat penting, yang didalamnya mengandung suatu seni, suatu identitas tertentu yang kemudian nama tersebut perlu mendapat perlindungan terutama perlindungan hukum. Gara-gara sebuah nama itu pula, kakak beradik, orangtua-anak, teman-sahabat bisa berselisih paham sehingga harus berakhir di pengadilan. Tidak percaya? Lihat saja kasus-kasus di pengadilan niaga yang terkait dengan merek. Melihat definisi merek menurut UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek yang berlaku sekarang yaitu dalam Pasal 1 ayat 1, Merek diartikan sebagai sebuah tanda yang terdiri dari gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.
Dari definisi merek tersebut dapat dikatakan bahwa merek
  1. merupakan suatu tanda,
  2. memiliki daya pembeda dan
  3. digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.

Demikian pentingnya arti sebuah nama dalam dunia bisnis yang kemudian membuat hukum merasa perlu memberikan perlindungan terhadapnya.

sumber : created by

Minggu, 19 April 2015

Komunitas Kewirausahaan dan Patologi Birokrasi

Patologi dalam terminologi medis disebut penyakit. Pengertian tersebut mungkin ada ketidak sinkronan dalam pemaduan dua kata tersebut, namun itu hanyalah sekedar terminologi untuk menggambarkan bahwa dalam birokrasi di Indonesia ada semacam penyakit kronis yang belum dapat disembuhkan. Sebut saja, dari perundang-undangan, aturan hukum dan kebijakan pemerintah masih sering bertolak belakang. Ironisnya manakala penyakit tersebut tidak segera di ”periksa” ke ahlinya, maka akan menggejala dalam sebuah sistem yang amburadul.

Artinya, ketika penyakit birokrasi tersebut sudah tidak ada di tubuh pemerintahan, maka percayalah akan terbangun sebuah paradigma baru dalam birokrasi yang di implementasikan keseluruh sistem yang punya sinerjitas dengan birokrasi. Bias birokrasi sehat dan bersih, dapat tertata dalam komunitas kewirausahaan, yang terdiri dari industri kreatif yang ada di masyarakat.

Komunitas kewirausahaan dan birokrasi tidak bisa dilepaskan dalam matarantai sejarah bangsa Indonesia, sudah menjadi sebuah ekosistem perekonomian bangsa antara keberadaan komunitas kewirausahaan dan birokrasi. Sayangnya, sampai saat masih ada birokrasi yang memandang sebelah mata, bahkan hampir tidak lagi mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Padahal, tuntutan reformasi setidaknya telah merubah wajah birokrasi Indonesia meskipun belum terlalu signifikan. Agenda reformasi dalam tubuh birokrasi di Indonesia ditujukan bukan lagi sekedar untuk membangun Institusi birokrasi yang professional secara menejerial, namun pada bagaimana birokrasi tersebut mampu merepresentasikan konfigurasi sosial ekonomi kerakyatan yang ada untuk menjamin keterwakilan masing – masing komunitas kewirausahaan.

Menurut sejumlah pengamat ekonomi, bahwa patologi birokrasi bersumber dari rekruitmen dan penempatan birokrat yang tidak berdasarkan merit system (berdasarkan jenjang karir). Selain itu keterlibatan birokrasi dalam politik dianggap sebagai hal yang harus diwaspadai, karena birokrasi bukanlah institusi atau lembaga yang bisa mewakilkan kepentingan kelompok atau golongan tertentu.

Secara makro atau nasional persoalan birokrasi di Indonesia lebih di dominasi, karena kurangnya pemisahan atau segresi yang jelas antara kepentingan politik dan administrasi. Masih sering dijumpai birokrat terlibat secara aktif dalam kegiatan politik, bisni dan hukum juga adanya politisi yang selalu mendominasi proses – proses birokrasi, sehinggga kebijakan yang diambil dalam birokrasi merupakan kebijakan politik dari orang – orang yang memiliki kepentingan tertentu.

 Persoalan tersebut seperti mengurai benang kusut, karena ke depan bila model birokrasi yang seperti ini terus dijalankan akan dapat memunculkan konflik, tertutama menimbulkan praktik kolusi, korupsi dan nepotisme dalam rekruitmen, penempatan, promosi dan mutasi birokrasi masih sering terjadi. Praktik – praktik yang seperti ini pada kenyataannya sudah menjadi rahasia umum yang pada akhirnya praktik – praktik korupsi dan pengamanan sumber –sumber ekonomi termasuk keuangan Negara dari kelompok yang sedang berkuasa dengan menjalin korporasi menjadi sebuah system yang penuh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Ini sebuah realitas bahwa patologi birokrasi di Indonesia sudah sangat parah. Sebab sudah berhubungan dengan kultur budaya di Indonesia, yaitu patron klien, Istilah “patron”  berasal dari ungkapan bahasa Spanyol yang secara etimologis berarti “seseorang yang memiliki kekuasaan (power), status, wewenang dan pengaruh” (Usman, 2004: 132). Sedangkan “klien” berarti “bawahan”  atau orang yang diperintah dan yang disuruh.

Selanjutnya, pola hubungan patron-klien merupakan aliansi dari dua kelompok komunitas atau individu yang tidak sederajat, baik dari segi status, kekuasaan, maupun penghasilan, sehingga menempatkan klien dalam kedudukan yang lebih rendah (inferior), dan patron dalam kedudukan yang lebih tinggi (superior). Model tersebut, dianggap menyuburkan korupsi, kolusi dan nepotisme di Indonesia. Tuntutan merit sistem dalam rekruitmen birokrasi terutama di daerah ternyata sulit dipenuhi karena persoalan primordialisme.

Untuk mengatasi tantangan globalisasi diperlukan perubahan cara kerja baru yang lebih efektif dan efisien, lebih demokratis dan terbuka, lebih rasional dan fleksibel dan lebih terdesentralisasi. Dalam perubahan menejemen tersebut dapat dikelola dengan baik, maka akan dipetik keuntungan yang berupa tumbuhnya banyak prakarsa, aneka ragam kreatifitas dan dorongan partisipasi yang makin besar. Pertumbuhan semacam itu akan mendorong terwujudnya kemandirian yang menjadi ciri utama pembangunan dalam rangka menghadapai kehidupan masa depan.

Untuk itu manajemen harus berorientasi pada tujuan agar lebih efektif dan efisien dengan cara seperti, membangun komunitas kewirausahaan berbasis industri kreatif dengan dukungan Teknologi Infomasi dan Komunikas (TIK), seperti yang dilakukan VISASIA Intrepreneur Community (Visec) telah merumuskan tujuan dan sasran organisasi secara jelas dan rinci untuk sebuah tujuan dan sasaran peningkatan taraf ekonomi dan kesejahteraan rakyat secara luas.

Perubahan tersebut akan dapat terlaksana bilamana didahului oleh perubahan sikap dan perilaku SDM yang akan menjadi pendukung utama perubahan tersebut. Untuk itu diperlukan langkah kegiatan yang berupa mencari nilai–nilai baru, kemudian dimasyarakatkan atau ditraining dan disempurnakan terus menerus, sehingga menjadi kebiasaan kerja dan budaya kerja dan kerja yang orientasinya pencerdasan dan pencerahan bangsa.

Dengan mengedepankan produktivitas budaya kerja adalah sikap mental yang selalu mencari perbaikan atau menyempurnakan apa yang telah dicapai dengan menerapkan formula baru serta yakin akan kemaslahatan umat manusia. Dalam hal ini dapat dilihat kaitan antara kepribadian itu terkandung unsur komunitasnya, keterampilan, minat, karateristik dan nilai–nilai kepribadian yang positif. Sikap itu kemudian menjadi perilaku yang memiliki semangat, optimis, kreatif, disiplin, rajin, jujur, tanggungjawab, dan progresif sehingga hasil kerja akan mencapai kualitas yang profesional.

Komunitas Visasia yang tersebar di seluruh nusantara sebagian besar memiliki Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan dinilai dari unsur sebuah survei, tentang kepemimpinan, perencanaan, pengorganisasian, penentuan prioritas, pendelegasian, pengendalian, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, komunikasi lisan, komunikasi tertulis, keterampilan administrasi, hubungan antar pribadi, pemeliharaan keselamatan, kerumahtanggaan, ketepatan waktu dan kehadiran, menjadi cermin sebuah filosofi “Berbagi dan Berbagi” kepada sesama.

Kesimpulannya, bahwa komunitas kewirausahaan dan hubungannya dengan birokrasi, suatu sistem dan mekanisme  yang berbeda tetapi memiliki kaitan yang sangat signifikan. Artinya, komunitas kewirausahaan adalah sebuah sistem yang terbangun berdasarkan kultur dan kebutuhan ekonomi masyarakat dan harus terus dipelihara, sehingga kesuksesan ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk ‘berubah’ dengan naik ke tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.

Sementara birokrasi adalah sistem dan mekanisme pemerintahan dan uraian jabatan dimana menentukan apa yang menjadi ekspektasi dari sebuah kebijakan dan bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.  Sehingga patologi birokrasi menjadi ‘haram’ hukumnya ketika menjadi ‘benalu’ pada pohon komunitas kewirausahaan.
Peran keduanya sangat penting dan harus saling membutuhkan dan kerjasama, birokrasi sebagai pembuat aturan dan kebijakan harus mampu mengayomi dan melindungi serta mengawasi komintas wirausaha, sedangkan para wirausaha harus mampu menghormati rambu-rambu birokrasi sebagai salah satu dari mata rantai tata aturan perekonomian bangsa, sehingga keduanya ikut mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menghasilkan atau memanfaatkan hasil pajak serta penghasil devisa bagi negara demi kemakmuran bangsa dan negara. Kata kuncinya Patologi (penyakit) birokrasi, budaya, hierarkhis, dan pelayanan publik yang tidak prima harus dibongkar secara keseluruhan dengan meminjam istilah Bapak Joko Widodo, yakni  perlu adanya “Revolusi Mental”.

Sumber : visasia entrepreneur indonesia

Densus 88 Tangkap Teroris Jaringan Santoso di NTT


Metrotvnews.com, Kupang: Densus 88 Antiteror Polri menangkap seorang terduga teroris di Desa Ranggawatu Kecamatan Sanonggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pukul 16.25 WITA, Sabtu (18/4/2015). Dia diduga anggota jaringan Santoso.

Kapolres Manggarai Barat, Ajun Komisaris Besar (AKB) Jules Abast, mengatakan tersangka bernama Syarif, sempat melarikan diri dengan menumpang bus antarkota menuju Labuan Bajo, Ibu Kota Manggarai Barat.
"Tersangka berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat dan belum lama menikah dengan perempuan dari Labuan Bajo," ujarnya kepada Media Indonesia, Sabtu.
Dia mengatakan Densus 88 memburu Syarif setelah diketahui bersembunyi di Manggarai Barat. Ia melarikan diri dari Poso menuju Makassar kemudin melanjutkan perjalanan ke Bima dan terakhir ke Labuan Bajo.
Operasi penangkapan melibatkan anggota Polres Manggarai Barat dan TNI Angkatan Darat berlangsung selama tiga hari.
Menurut dia, tersangka diburu sejak Jumat (17/4/2015) sekitar pukul 14.00 WITA di Kampung Tua, Desa Jengok, Kecamatan Sanonggoang. Karena tidak ditemukan, polisi dan TNI melakukan penyisiran di kampung Toe, tak jauh dari kampung Tua hingga kampung Pola.
Pada Sabtu siang, penyisiran dilanjutkan di Kampung Toe namun tidak tidak ditemukan. Tim kemudian bergerak ke desa lainnya, yakni Bambor.
Di sana diperoleh informasi dia naik bus menuju Labuan Bajo. Seluruh personel kemudian dikerahkan untuk mengejar bus tersebut dan berhasil dicegat saat melintasi kawasan hutan Desa Ranggawatu.
Dia kemudian diturunkan dari bus tanpa perlawanan dan dibawa ke kantor Polres Manggarai Barat. "Sampai malam ini tersangka masih diinterogasi di kantor Polres. Kemungkinan besok diterbangkan ke Jakarta," ujarnya.

Rabu, 15 April 2015

Statistik pertanian di Witihama


Witihama - selayang pandang kecamatan witihama sebelumnya merupakan perwakilan wilayah dari kecamatan adonara timur. seiring perjalanan waktu, untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat maka berdasarkan peraturan daerah (perda) no. 07 tahun 2001 tentang pendefinitipan bersama dengan titehena, ile mandiri, wotan ulumado, ile boleng, kelubagolit, witihama ditetapkan menjadi kecamatan definitip yang terpisah dari kecamatan induk adonara timur. topografi kecamatan witihama berbukit dan lembah serta dataran rendah berupa hamparan yang membentang hingga ke laut. sebuah pemandangan yang tidak kalah menarik, ketika manjejakkan kaki di kecamatan ini tampak gugusan desa yang mendiami area perbukitan sedangkan beberapa desa lagi mendiami wilayah lembah yang mana merupakan pusat aktivitas penduduk kecamatan witihama pada umumnya. secara keseluruhan kecamatan witihama dihuni oleh masyarakat etnis lamaholot yang tersebar pada enam belas (16) desa dengan jumlah penduduk sebanyak 13.979 jiwa. umumnya masyarakat kecamatan witihama berprofesi sebagai petani. senyum ramah dengan bahasa keseharian lamaholot merupakan ciri lain dari kecamatan ini. perkembangan ekonomi masyarakat di wilayah kecamatan witihama cukup baik karena memiliki pasar harian yang berdampak positip terhadap pendapatan ekonomi masyarakat setempat. sarana prasarana transportasi pada wilayah kecamatan witihama cukup memadai. kondisi ini terbukti dengan terjangkaunya seluruh desa dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. kondisi sosial masyarakat kecamatan ini perlu diapresiasi mengingat masih dijunjungtingginya nilai-nilai budaya serta adat istiadat yang menjadi kebiasaan pada wilayah setempat yang telah diwariskan secara turun-temurun serta suasana kehidupan selalu mencerminkan perilaku hidup yang saling menghargai serta terbinanya kerukunan antar pemeluk agama.

geografis dan iklim karakteristik keadaan alam di wilayah ini beriklim tropis yang hanya mengenal musim hujan dan kemarau, di mana tingkat curah hujan sangat rendah. iklim di kecamatan witihama secara umum tidak berbeda jauh dengan kecamatan lain di kabupaten flores timur. tabel tingkat curah hujan menunjukkan bahwa tingkat curah hujan di kecamatan witihama tertinggi terjadi pada bulan januari, yakni sebesar 319,9 mm dan terendah terjadi pada bulan juni, yakni sebesar 10,6 mm. tabel ini juga menunjukkan bahwa hari hujan terbanyak terjadi pada bulan desember, yaitu sebanyak 19 hari dan hari hujan terendah terjadi pada bulan juni yang hanya terjadi dalam 2 hari. grafik 1.2. curah hujan dan hari hujan di kecamatan witihama, 2013 bulan curah hujan (mm) hari hujan januari 319,9 15 februari 240,3 16 maret 113,2 10 april 109,9 9 mei 98,9 15 juni 10,6 2 juli - - agustus - - september 11,5 4 oktober 73,5 11 nopember 86,9 9 desember 169,6 19 jumlah 1.135,4 110

pemerintahan kecamatan witihama terdiri dari 49 dusun dan 174 rt yang menyebar pada semua desa. jumlah dusun dan rt di kecamatan witihama 3 no nama desa dusun rt 1 watololong 3 6 2 tuwagoetobi 3 12 3 riangduli 3 6 4 pledo 3 21 5 watoone 3 23 6 weranggere 3 12 7 oring bele 4 20 8 wauwuring 3 3 9 tobitika 3 9 10 sandosi 4 12 11 balaweling 2 6 12 lamabelawa 3 12 13 lewopulo 3 8 14 lamaleka 3 6 15 balaweling noten 3 9 16 baobage 3 9 jumlah 49 174

luas tanam,luas panen dan produksi tanaman pertanian non intensifikasi kecamatan witihama tahun 2011-2013 sumber : witihama dalam angka 2012-2014 pembangunan di bidang pertanian semakin gencar digalakkan dengan tujuan meningkatkan produksi pertanian serta tercapainya swasembada pangan. dalam mendukung tujuan pembangunan diatas, maka yang men-jadi sasaran pembangunan adalah tanaman pangan. pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling vital di mana ketersediaan pangan men-jadi prioritas dalam mendukung suplay bahan makanan dan minuman sebagai konsumsi manusia. mayoritas masyarakat kecamatan witihama berprofesi sebagai petani dengan metode ber-tani yang masih tradisional. komoditi unggulan yang menjadi konsentrasi usaha, yaitu : padi ladang, jagung, kacang hijau, kacang tanah dan ubi kayu. perkiraan luas tanam untuk tanaman pangan di kecamatan witihama pada periode 2011-2013 mengalami perubahan yang bersifat fluk-tuatif, namun luas panen menurut jenis komoditi di kecamatan ini menunjukan trend meningkat, yakni pada tahun 2011 sebesar 1.958 ha meningkat pada tahun 2012, 2013 menjadi 2.819 ha dan 2.991 ha. produktivitas hasil pertanian tanaman pangan di kecamatan witihama menunjukkan kondisi fluktu-atif, di mana sepanjang tahun 2011 hingga 2012 hasil mengalami peningkatan dari 2.227 ton men-jadi 4.363 ton, namun produktivitas kembali menurun pada tahun 2013 menjadi 4.126,3 ton. gambaran umum kondisi pertanian di kecama-tan witihama berdasarka tabel di atas membuk-tikan bahwa kondisi iklim dengan tingkat curah hujan yang sangat rendah, pola bertani yang masih tradisional serta sdm yang berkaitan dengan teknik bertani yang profesional masih minim yang bedampak terhadap produksi per-tanian pada wilayah ini. jenis komoditi luas tanam (ha) luas panen (ha) produksi (ton) 2011 2012 2013 2011 2012 2013 2011 2012 2013 padi ladang 151 153 153 151 119 153 185 201 186 jagung 1.488 1.468 1.462 813 1.303 1.462 679 2.088 1.900,6 kacang hijau 496 496 445 397 496 445 253 393 400,5 kacang tanah 448 481 496 182 481 496 108 673 595,2 ubi kayu 415 420 435 415 420 435 1.002 1.008 1.044 jumlah 2.998 3.018 2.991 1.958 2.819 2.991 2.227 4.363 4.126,3


perkebunan tanaman perkebunan memiliki peran yang sangat krusial karena dapat meningkatkan pendapatan, penyerapan tenaga kerja ser-ta peningkatan kelestarian sumber daya alam. potensi perkebunan di-harapkan dapat berperan da-lam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat perdesaan yang akan berdampak terhadap pening-katan kesejahteraan. komoditi tanaman perke-bunan yang menjadi primado-na masyarakat kecamatan witihama pada umumnya adalah kelapa, jambu mete dan kemiri. kondisi ini dapat dibuk-tikan dari tabel di samping, dimana tanaman kelapa memberikan hasil produksi terbesar karena merupakan tanaman perkebunan rakyat, yakni mencapai 724 ton da-lam tahun 2013 sedangkan produksi yang terkecil adalah jenis komoditi pinang dengan produksi sebesar 3 ton. tabel.10.1: produksi tanaman perkebunan di kecamatan witihama tahun 2013 sumber : witihama dalam angka 2014 no jenis tanaman luas area (ha) produksi (ton) belum menghasil kan sudah menghasilk an 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 kelapa kopi cengkeh kakao jambu mete kemiri pinang kapok pala lada vanili jarak pagar 9.00 2.00 - 9.00 655.00 50.00 1.00 - 12,0 - - - 724.00 19.00 - 5.00 660.00 42.00 3.00 - - - - - 724.00 19.00 - 5.00 660.00 42.00 3.00

Sumber : 
http://florestimurkab.bps.go.id/

Bank NTT Jangan Hanya Termanjakan Dengan Dana APBD

KUPANG, berandanusantara.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya menegaskan bahwa Bank NTT harus terus berupaya mencari penyertaan modal dari luar, dan jangan hanya terus termanjakan dengan dana pemerintah daerah atau anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) saja.
Penegasan ini disampaikan Gubernur pada saat acara pelantikan dan serah terima jabatan Direktur Pemasaran Kredit Bank NTT, yang berlangsung di Hotel Aston Kupang, Rabu (11/3/2015).
Ia mengungkapkan, upaya mencari penambahan modal merupakan tanggung jawab semua direksi dan jajarannya. Karena, sebut Frans, itu sangat penting untuk dikelolah sebaik-baiknya demi kepentingan daerah NTT. “Harus berupaya mencari penambahan modal dari luar lagi. Bank NTT jangan termanjakan dengan dana APBD saja,” tegasnya.
Dikatakan Gubernur, Rakyat Nusa Tenggara Timur menaruh harapan yang besar di pundak Bank NTT, sehingga Bank NTT terus diingatkan untuk menjadi Bank yang terkemuka dalam membangun daerah. “Bank NTT harus menjadi yang terkemuka, karena perannya juga sangat diharapkan dalam pembangunan daerah,” katanya.
Selain itu, berkaitan dengan penyaluran kredit, Gubernur mengingatkan agar bank NTT perlu memprioritaskan pemberian kredit kepada usaha-usaha produktif yang ada di NTT, terutama untuk Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), maupun jenis usaha produktif lainnya.
“Kelompok usaha di NTT sangat banyak, sehingga ini perlu diberi perhatian guna peningkatan ekonomi,” tandasnya Lebu Raya.
Absalom Sine Resmi Menjabat Direktur Pemasaran Kredit
Jabatan Direktur Pemasaran Kredit yang beberapa waktu terakhir dijabat rangkap oleh Eduardus Bria Seran yang merupakan Direktur pemasaran Dana, akhirnya ditempati pejabat baru yakni Absalom Sine, mantan Pimpinan Bank NTT Cabang Utama Kupang.
Serah terima Jabatan dan Pelantikan Absalom Sine dilaksanakan di Hotel Aston Kupang, Rabu (11/3/2015), oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya, yang dihadiri pula sejumlah Kepala Daerah dan seluruh jajaran Komisaris dan Direksi Bank NTT.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur NTT mengingatkan kepada Direktur Pemasaran Kredit yang baru untuk bekerja secara maksimal untuk meningkatkan sektor kredit Bank NTT, terutama untuk berbagai usaha produktif
“Tanggung jawab besar ditaruh di pundak saudara Absalom Sine, terutama dalam tugasnya sebagai pengambil kebijakan untuk urusan kredit di Bank NTT,” tegasnya.
Sementara itu, menanggapi pesan Gubernur untuk memprioritaskan pemberian kredit produktif dan mendukung berbagai program pemberdayaan, Absalom Sine menjelaskan, hal tersebut juga telah masuk dalam rencana kerja Bank NTT, sehingga kedepan tinggal saja dijalankan.
“Programnya sudah ada, sekarang tinggal bagaimana kita menjalankannya saja,” ungkapnya. (Andyos Manu)